Wednesday, September 16, 2020

Sejarah Pembentukan KPHP Model Sorong Selatan Unit V




Kantor KPHP Sorong Selatan Unit V (foto : reynold)

Sorong Selatan - Pembentukan KPHP Model Sorong Selatan Unit V berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 744/Menhut-II/2009 tanggal (19/10/2009) tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Provinsi Papua Barat, maka Bupati Sorong Selatan mengusulkan Kepada Menteri Kehutanan untuk penetapan KPHP Model di Kabupaten Sorong Selatan dan disambut baik oleh Kementerian Kehutanan dimana pada tanggal (26/12/2012) ditetapkannya KPHP Model Sorong Selatan Selatan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK. Menhut.771 /Menhut-VII/2012 Tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Model Sorong Selatan (Unit V), yang terletak di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat seluas ± 283.260 (Dua Ratus Delapan Puluh Tiga Ribu Dua Ratus Enam Puluh) Hektar.

Perjalanan pembentukan KPHP Sorong Selatan diawali Sosialisasi Kebijakan Pembangunan KPH di Kabupaten Sorong Selatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat dengan nara sumber dari BPKH Wilayah XVII Manokwari pada Hari Jumat (02/11/2012) di Ruang Rapat Bupati Sorong Selatan yang diikuti oleh pimpinan daerah dan pimpinan SKPD Kabupaten Sorong Selatan dimana Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan menyambut baik rencana pembentukan KPHP Model Register V di Wilayah Pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan. Pada hari Selasa (20/11/2012) di Swiss Bell Hotel Manokwari dilaksanakan Dialog Bulanan Kehutanan yang menegaskan Rencana Kegiatan BPKH Wilayah XVII Tahun 2013 untuk memfasilitasi Pembangunan dan Operasionalisasi KPHP Model Sorong Selatan Unit V.

Setelah ditetapkan wilayah KPHP Model Sorong Selatan (Unit V) oleh Menteri Kehutanan maka pada tanggal (23/01/2013) di Kantor Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan dilakukan pertemuan antara BPKH Wilayah XVII Manokwari dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan yang menghasilkan kesepakataan bersama dalam pembagian tugas, peran dan fungsi guna mempercepat terbentuk dan operasionalnya KPHP Model Sorong Selatan.

Salah satu langkah Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan dalam mempercepat operasionalnya KPH adalah dibentuk kelembagaan melalui Peraturan Bupati Sorong Selatan Nomor 07 Tahun 2013 tentang Pembentukan Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesatuan Pengolahan Hutan Produksi (KPHP) Model (Unit V) Pada Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan. Sebagai dasar dalam menjalankan pengelolaan ditingkat tapak. 

Peran aktif dari Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan dalam mengikuti pertemuan KPH ditingkat Provinsi, Regional dan Nasional dalam upaya peningkatan kapasitas SDM dan pemahaman terhadap KPH, selain itu dikirimkan Sdr. Reynold Kesaulija, S.Hut. untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (CKKPH) di Pusat Diklat Kehutanan Bogor sebagai salah satu upaya dalam menyiapkan SDM yang berkompeten dan berkualitas dalam pengelolaan hutan di KPHP Model Sorong Selatan.

Dalam penyiapan sarana dan prasarana operasional KPHP Model Sorong Selatan, BPKH Wilayah XVII Manokwari pada tahun 2013 telah membangun 1 Unit Kantor KPH lengkap dengan sarana dan prasarananya serta diserahkan 1 (satu) Unit Mobil Operasional KPH dalam menunjang kinerja dari KPHP Model Sorong Selatan. 

BPKH Wilayah XVII Manokwari juga memfasilitasi dalam penyiapan dokumen perencanaan yaitu dokumen Inventarisasi Biogeofisik KPHP Model Sorong Selatan dan Dokumen Penyusunan Tata Hutan KPHP Model Sorong Selatan. Kedua laporan ini sebagai dasar dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (RPHJP KPHP) Model Sorong Selatan.

Kesatuan Wilayah KPHP Model Sorong berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK. Menhut. 771 /Menhut-VII/2012 seluas ± 283.260 (Dua Ratus Delapan Puluh Tiga Ribu Dua Ratus Enam Puluh) Hektar. Setelah dilakukan rasionalisasi dengan Peta Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Papua Barat berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor : SK.783/ Menhut-II/2014 maka luas Areal KPHP Sorong Selatan menjadi ± 265.088.12 ha dimana Kesatuan Wilayah KPHP Model Sorong Selatan merupakan KPH lintas Kabupaten yang berada pada Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Sorong dan dan Kabupaten Maybrat, yang secara geografis berada antara 1o21’1” - 1o46’52" Lintang Selatan (LS) dan 131o42’10” - 132o28’33" Bujur Timur (BT),

Penyiapan SDM yang akan memimpin dan menjalankan roda organisasi KPHP Sorong Selatan diawali dengan dikutsertakannya sdr. Reynold Kesaulija, S.Hut.,M.Si untuk mengikuti Diklat Calon Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (CKKPH) Angkatan IV yang terbagai dalam dua fase yaitu fase I pada tanggal 03 September s.d. 01 November 2013 sedangkan Fase 2 dilaksanakan pada tanggal 21 April s.d. 09 Juni 2014 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIIKLAT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Bagor – Jawa Barat. Setelah selesai mengikuti Diklat CKKPH di PUSDIKLAT KLHK di Bogor, sdr. Reynold Kesaulija, S.Hut.,M.Si melaporkan ke kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan dan Bupati Sorong Selatan, dengan tidak menunggu waktu yang lama dimana pada tanggal 19 Juni 2019 Wakil Bupati Sorong Selatan Bapak Samsudin Anggiluly, SE An. Bupati Sorong Selatan di Ruang Rapat Kantor Bupati Sorong Selatan melantik sdr. Reynold Kesaulija, S.Hut.,M.Si sebagai Kepala KPHP Sorong Selatan dan sdr. Yan Bonisauw sebagai Kepala SBTU KPHP Sorong Selatan. 

Peresmian Kantor KPHP Sorong Selatan oleh Bupati Sorong Selatan Bapak Drs. Ottow Ihalauw (foto : reynold)

Pada tanggal 27/06/2014, Bupati Sorong Selatan Bapak Drs. Ottow Ihalauw meresmikan Kantor KPHP Sorong Selatan dan menyerahkan 1 Unit Mobil, 2 Unit Motor dan sarana prasarana KPH sebagai langkah awal operasionalisasi KPHP Sorong Selatan, dimana tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun KPHP Sorong Selatan.

Pada tahun 2014 terbitnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 20I4 tentang Pemerintahan Daerah, maka terjadi pengalihan beberapa urusan pemerintahan bidang kehutanan dari urusan pemerintah daerah kabupaten/kota menjadi urusan pemerintah daerah provinsi. Untuk mendukung pelaksanaan urusan tersebut maka dilakukan pengalihan Pegawai Negeri Sipil Daerah Kabupaten/Kota yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang kehutanan selain yang melaksanakan pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) menjadi Pegawai Negeri Sipil Daerah Provinsi, yang dijabarkan dalam Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 2 Tahun 2016
 Tentang
Pelaksanaan Pengalihan Pegawai Negeri Sipil Daerah Kabupaten/ Kota yang melaksanakan Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan selain yang melaksanakan Pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Kabupaten/ Kota
Menjadi Pegawai Negeri Sipil Daerah Provinsi. Sehingga pada tahun 2016/2017 dilakukan proses pengalihan/mutasi kepegawaian dari Kabupaten Sorong Selatan menjadi PNS Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat.

Pada tanggal 28/04/2017 Pejabat Gubernur Papua Barat Bapak Drs. Eko Subowo, MBA menugaskan sdr. Reynold Kesaulija, S.Hut.,M.Si sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Kabupaten Sorong Selatan yang dituangkan dalam Surat Perintah Pelaksana Tugas Nomor. 821.2/23/Plt/2017. Pada tanggal 19/06/2017 dilaksanakan penyerahan Surat Perintah Pelaksana Tugas (Plt) oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat kepada 11 Kepala Cabang Dinas Kehutanan, Kepala UPTD KPHP Sorong Selatan dan 1 Kepala UPTD KPHL Kota Sorong bertempat di ruang rapat Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat sebagai moment sejarah kehutanan di Provinsi Papua Barat dimana terjadi perubahan struktur organisasi Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat dan sebagai langkah awal operasionalisasi CDK dan UPTD KPH lingkup Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat.

Gubernur Papua Barat Bapak Drs. Dominggus Mandacan melantik perangkat organisasi Cabang Dinas Kehutanan (CDK) dan UPTD Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) lingkup Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat bersama perangkat organisasi UPTD CDK dan KPH
Lingkup Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat (foto : reynold)

Pembentukan Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Unit pelaksana Teknis Daerah pada Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat dituangkan dalam Peraturan Gubernur Papua Barat Nomor 5 Tahun 2018. Implementasi Peraturan Gubernur Nomor 4 dan Nomor 5 Tahun 2018, maka pada tanggal (21/11/2018) Gubernur Papua Barat Bapak Drs. Dominggus Mandacan melantik perangkat organisasi Cabang Dinas Kehutanan (CDK) dan UPTD Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) lingkup Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat berdasarkan Keputusan Gubernur Papua Barat Nomor : SK.821.2-03 (30/10/2018), dimana struktur organisasi Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Sorong Selatan Unit V sebagai berikut Reynold Kesaulija, S.Hut.,M.Si, sebagai Kepala KPHP, Irawati Basir, S.Hut, sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Yeremias Y. M. Thesia, S.Hut, sebagai Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan dan Iriani Rahalita Faot, SH, sebagai Kepala Seksi Perlindungan, Rehabilitasi Hutan dan Lahan serta Pemberdayaan Masyarakat. [NM]

Wednesday, September 9, 2020

Gerakan Pramuka Kwarcab Sorong Selatan melakukan Aksi Peduli dalam masa pandemic Covid-19

pembagian sembako dan masker kepada Andalan Cabang, para pembina Gugus Depan, adik-adik Pengurus DKC dan juga beberapa perwakilan masyarakat di Kabupaten Sorong Selatan.
Kegiatan Pramuka peduli dengan melakukan pembagian sembako dan masker kepada Andalan Cabang,
para pembina Gugus Depan, adik-adik Pengurus DKC dan juga beberapa perwakilan masyarakat
di Kabupaten Sorong Selatan (foto : Reynold)

Sorong Selatan – Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 3308 Sorong Selatan melakukan Aksi Peduli dalam masa pandemic covid-19, dengan Ziarah ke TMP Tri Tjakrabuana Teminabuan serta membagikan sembako dan masker kepada Andalan Cabang, Pembina Pramuka dan beberapa perwakilan masyarakat (03/09/2020). 

Wakil Ketua Organisasi dan Hukum Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 3308 Sorong Selatan, Hendrik Kondong, S.Hut.,M.Si, menyampaikan “Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 3308 Sorong Selatan di dalam tahun 2020 ini telah merencanakan beberapa kegiatan kepramukaan yang akan dilakukan di tingkat di Kwartir Cabang, namun karena kondisi wabah pandemic covid 19 sehingga beberapa kegiatan harus kami sesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat ini” 

“Memang ada beberapa kegiatan yang sudah dilakukan sebelum wabah pandemic covid, yaitu peringatan Hari Baden Powell (22/02/2020) setelah itu kita memasuki wadah pandemic covid-19 sekitar bulan maret sampai dengan saat ini, sehingga beberapa kegiatan yang sudah kami rencanakan dievaluasi kembali dan mengalami penyesuaian” tambah Hendrik.

Ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP)
Tri Tjakrabuana Teminabuan (Foto : Maryam)
Kakak Hendrik sapaan akrap beliau menyampaikan untuk tahun ini selain kegiatan HUT Baden Powell (22/02/2020), Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 3308 Sorong Selatan juga melaksanakan kegiatan peringatan Hari Pramuka (14/08/2020) dengan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Tri Tjakrabuana Teminabuan dengan melibatkan adik-adik dari Dewan Kerja Cabang (DKC) beserta para Andalan Cabang. Kemudian untuk akhir tahun ini di bulan September kami melaksanakan kegiatan Pramuka Peduli, terutama untuk pramuka peduli Covid-19 sesuai dengan tema hari Pramuka “Peran Gerakan Pramuka ikut Membantu dalam Penanggulangan Bencana Covid-19 dan Bela Negara”, sehingga pada hari ini (03/09/2020) kami melakukan pembagian sembako dan masker kepada Andalan Cabang, para pembina Gugus Depan, adik-adik Pengurus DKC dan juga beberapa perwakilan masyarakat di Kabupaten Sorong Selatan.

Semoga apa yang telah kami lakukan sebagai bentuk kepedulian Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 3308 Sorong Selatan, dapat memberikan dampak yang positif bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Sorong Selatan terlebih khusus bagi Gerakan Pramuka. Kami menyampaikan terima kasih atas bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan dan juga dukungan dari Ketua Kwartir Cabang 3308 Sorong Selatan dan para Andalan cabang sehinggea seluruh kegiatan kita di tahun 2020 dapat berlangsung dengan baik ujar Hendrik. [NM]

Tuesday, August 11, 2020

Keseruan Praktek Kerja Terpadu di Hutan Sagu Momi Waren Kabupaten Manokwari Selatan

 

Engel Claudio Richard Ronaldo Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Papua 
Angkatan 2017 sedang membuat jalur Pengamatan

Manokwari - Berkuliah di bidang ilmu yang dibilang penuh tantangan dan petualangan memilki cerita tersendiri pada saat pelaksanaan praktikum dilapangan, pada kesempatan ini saya berkesempatan mewancarai Laurensia Verina Mapandin, Ewandi Winel Peday dan Engel Claudio Richard Ronaldo Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Papua yang melaksanakan Praktek Kerja Terpadu (PKT) bertempat di hutan sagu Kampung Gaya Baru Distrik Momi Waren Kabupaten Manokwari Selatan, pada Selasa (28/07/2020). Verina dan Wawa serta engel panggilan akrab mereka akan berbagi kisah seputar praktikum di hutan sagu momi waren.

Verina mengungkapkan pengalamannya pertama kali masuk di hutan sagu dimana banyak hal-hal yang menarik di dalam hutan sagu karena ini hal yang pertama sehingga cukup seru, luar biasa dan perasaan campur aduk karena becek dan segala macam serta harus memakai sepatu boot juga. 

"Pokoknya seru, karena kita bisa belajar banyak tentang sagu, mulai dari tingkat semai kalo di sagu dibilang rosed, untuk tingkat pancang kita bilang pohon muda dan juga tingkat selanjutnya adalah pohon dewasa. Pastinya ditiap-tiap jalur yang ada punya pengalaman masing-masing khususnya di jalur 4 di jalurnya kelompoknya saya cukup menyenangkan karena kita bisa benar-benar merasakan bekerjasama dalam kelompok di dalam hutan" ujar Verina.

Hal yang senada disampaikan oleh wawa merupakan pengalaman pertama ke dalam hutan sagu, dimana dari luar kelihatannya biasa-biasa saja, begitu masuk ternyata medannya lumayan karena begitu banyak lumpur, dan saat melakukan inventarisasi ternyata di dalam sana banyak duri-duri sagu, jadi waktu merintis jalam untuk membuat petak-petak itu tidak gampang. Dari PKT di hutan sagu ini, kita dapat pelajaran bisa mengenal jenis sagu dan lebih tahu medan apa saja dalam hutan sagu.

"Hari ini kami mahasiwa Fahutan Kehutanan Unipa angkatan 2017 melaksanakan PKT di hutan sagu, disini kami melakukan inventarisasi sagu dengan plot ukuran 20 m x 20 m dengan base line menggunakan 270 derajat dan untuk jalur setiap plot meggunakan asimuth 360 derajat tanpa jarak antar plot. Ada kriteria dalam penilaian sagu, yaitu anakan, sagu muda dan sagu dewasa atau tua yang sudah memiliki batang buah dan bunga. Untuk saya sendiri inventarisasi sagu ini pengalaman pertama saya dan sensasinya lebih melelahkan dibandingkan dengan hutan-hutan umumnya karena identik dengan lumpur, medan yang basah dan terhalang dari duri-duri sagu. Tetapi secara keseluruhan hari ini cukup baik karena teman-teman semua bisa mencapai target kami yaitu 100 m dengan target 5 plot dan semuanya dapat dicapai oleh teman-teman dari kelompok kami" ungkap Engel. [NM]

Verina dan teman -teman Kelompok 4 sedang melakukan Inventarisasi Hutan Sagu 


Sunday, August 9, 2020

Secarik Catatan Koyak yang Tersimpan di Balik Tegakan Agathis Bariat

Tegakan Hutan Agathis Labilardiery Warb di Hutan Damar Bariat
Tegakan Agathis labilardieri Warb pada Hutan Damar Bariat Distrik Konda Kabupaten Sorong Selatan

Sorong Selatan - Pada masa pemerintahan Belanda, divisi kehutanan atau yang lebih dikenal dengan BOSWEZEN melalui proyeknya yang diberi nama KEREN Proyek, yang bertugas merencanakan pembangunan hutan tanaman yang dapat menghasilkan getah dan kayu. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat yang ada di sekitar hutan

Dimulai pada tahun 1958, beberapa daerah di West Papua (sekarang Papua dan Papua Barat) ditentukan untuk menjadi sasaran kegiatan, seperti Kabupaten Jayapura bertempat di Sarmi (sekarang Kabupaten Sarmi), Kabupaten Biak bertempat di Biak Timur (Parieri) dan Kabupaten Manokwari bertempat di Distrik Kebar (sekarang Kabupaten Tambrauw) serta Kabupaten Sorong bertempat di Distrik Teminabuan (sekarang Distrik Konda).

Hanya dua jenis pohon yang dipilih sebagai komoditi andalan karena dianggap sesuai dengan tujuan utama dari proyek, yaitu Agathis labilardieri Warb yang ditanam di Kabupaten Sarmi, Biak dan Bariat, sedangkan Araucaria cuninghami di tanam di Kebar.

Sasaran utama dari proyek ini adalah kemampuan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan menjadi lebih baik, oleh karena itu keterlibatan masyarakat sekitar hutan sudah dimulai diutamakan sejak awal. Hal ini terbukti dengan adanya perekrutan tenaga kerja lokal untuk dilatih menjadi tenaga kerja terampil di bidang kehutanan. Di antara mereka yang dinilai menunjukkan kinerja baik selanjutnya dikirim ke Selandia Baru untuk mengikuti pelatihan lanjutan sesuai dengan kemampuannya yang dibedakan dalam empat bidang, seperti bidang Survey, Pengumpulan Benih, Pesemaian dan Penanaman. Selanjutnya tenaga terlatih di bidangnya ini ditunjuk sebagai pimpinan kegiatan lapangan di KEREN Proyek.

Hutan Bariat di Distrik Konda dipilih menjadi salah satu lokasi proyek pembangunan hutan tanaman pada waktu itu karena dinilai dari beberapa aspek: Secara ekologis, tanaman yang akan dikembangkan, Agathis labilardieri Warb., telah ada dan tumbuh secara alamiah dengan baik bahkan menurut catatan pengamatan di lapangan pada waktu itu dapat menghasilkan damar sekitar 500 kg/ha/bulan. Secara fisik, dengan mempertimbangkan topografi yang agak datar sampai landai dengan ketinggian 20m sampai 64 m di atas permukaan laut dan luas lahan yang cukup maka pada kawasan ini direncanakan untuk penanaman pohon agathis pada lahan seluas 3800 ha. Dari segi aksesibilitas, lokasi ini dianggap sangat strategis. Oleh karena itu, selain direncanakan sebagai hutan tanaman, kawasan hutan bariat ini juga direncanakan sebagai pusat produksi damar di wilayah kepala burung untuk menampung produksi damar dari hutan alam yang berasal dari sekitarnya seperti di Seremuk, Aifat dan bahkan hutan tanaman Araucaria cuninghami yang direncanakan di Kebar. Dari aspek sosial budaya, proyek bariat ini secara tidak langsung melibatkan masyarakat dari tiga suku besar, Meybrat, Tehit dan Imeko. Di samping terlibat sebagai tenaga kerja, sebagian dari mereka juga datang untuk menjual hasil damar mereka.

KEREN Proyek Bariat yang dipimpin oleh Bowman dan ketua kelompok penelitinya Hansen, dimulai setelah kepala klen Afsia/Bariat (salah satu klen dari suku Tehit), Policarpus Kareth, menyerahkan hak adat atas lahan hutan tanaman agathis pada tahun 1958 kepada Pemerintah Belanda atas kesepakatan seluruh masyarakat adat Afsia/Bariat. Kawasan ini kemudian oleh pemerintah belanda dinamakan Resort Pemangku Hutan (RPH) Bariat. Pada tahun itu juga segera dibangun sarana prasarana proyek seperti, jalan yang menghubungkan lokasi proyek dengan Teminabuan dan jalan-jalan penghubung pusat kegiatan di lokasi proyek (sekarang disebut Jalan BosWezen/Jalan Bariat), Base Camp di Menye (terdiri dari perkantoran, gudang penampung damar, dan tempat tinggal karyawan) dan Pelabuhan Kapal di Menye untuk mengekspor hasil damar. Base Camp di bangun di Menye karena belum ada pemukiman masyarakat seperti saat ini di Kampung Bariat dan Manelek. Masyarakat adat afsia masih bermukim bersamaan dengan masyarakat adat lainnya di Kampung Konda.

Pada tahun 1959, KEREN Proyek dimulai kegiatan clearing atau pembukaan lahan dan pembuatan pesemaian hutan tanaman agathis secara bertahap sesuai dengan kemampuan tenaga kerja pada saat itu. Kegiatan ini melibatkan banyak tenaga kerja sehingga banyak dari mereka yang datang dari Teminabuan, Kais, Ayamaru, Aifat, Aitinyo, Makaroro dan Mare untuk bekerja di proyek ini sebagai karyawan lepas. Sebagai karyawan lepas mereka membuat pemukiman sementara di luar lokasi proyek. Lokasi pemukiman ini terus berkembang hingga terbentuk suatu kampung yang saat ini dikenal dengan nama kampung Manelek.

Di samping mempersiapkan pembangunan hutan tanaman agathis bariat, proyek ini juga telah memfasilitasi pemasaran hasil damar dari beberapa tempat disekitarnya selain dari kawasan hutan bariat sendiri, seperti dari Ayawasi-Aifat dan Seremuk. Bahkan menurut penuturan masyarakat, pemerintah belanda menyediakan pesawat sejenis cesna sebagai sarana transportasi hasil damar dari Ayawasi ke Teminabuan dan selanjutnya diangkut ke Menye. Sebelumnya masyarakat memikul hasil sadapan mengikuti jalan setapak melalui Bogaraga (sekarang Waigo) dan selanjutnya ke Menye.

Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan, pemerintah belanda memfasilitasi berdirinya sebuah koperasi masyarakat yang diberi nama “Koperasi WNB”. Nama koperasi ini berasal dari kata W = Weta, N = Nakin dan B = Brat. Weta artinya anggota koperasi yang berasal dari Aitinyo dan Makaroro (sekarang distrik Aifat Timur), Nakin artinya mereka yang datang dari Kais (sekarang distrik Kais) dan Brat artinya mereka yang datang dari Ayamaru, Aifat dan Mare (sekarang distrik Ayamaru, Ayamaru Utara, Mare dan Aifat).

Kopal Damar
Kopal Damar
Sejak tahun 1963, proyek ini tidak dapat berjalan lagi karena pemerintah belanda harus melepaskan wilayah papua ke pangkuan Negara Republik Indonesia. Segala aset yang ada diserahkan ke Pemerintah Republik Indonesia dan dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Irian Barat.

Adalah seorang karyawan RPH Bariat yang bekerja di dua masa pemerintahan negara, bapak Tigore menuturkan beberapa pengalamannya bekerja di hutan tanaman agathis. Beliau memulai karirnya di bidang kehutanan sebelum tahun 1954 di Biak (KEREN Proyek Parieri). Sebagai karyawan yang dianggap terampil setelah mengikuti pelatihan di Selandia Baru, sejak tahun 1954 bapak asal Kais ini dipercayakan sebagai pemimpin lapangan di KEREN Proyek Sorong yang meliputi beberapa lokasi seperti Aifat, Ayamaru, Bariat dan Seremuk yang berkedudukan di Ayamaru. Sejak tahun 1958, KEREN Proyek Bariat dimulai, bapak Tigore dipindahkan ke wilayah ini untuk membina masyarakat adat. Mereka diberi pelatihan cara menentukan pohon induk, memanen buah untuk benih, dan pemeliharaan lantai tanaman hutan agathis. Sejak jaman TRIKORA (Republik Indonesia mengambil alih permerintahan di Papua, 1963) RPH Bariat yang berkedudukan di Menye, dipindahkan ke Manelek (sekarang kampung Manelek) dengan pertimbangan kemudahan aksesibilitas. 

Pada saat itu beliau masih terus aktif menjaga kelangsungan dari hutan agathis di Bariat. Hal ini memacu pertumbuhan pemukiman di Manelek yang cukup menyediakan fasilitas sosial yang memadai seperti pelayanan pendidikan, kesehatan dan kerohanian. Dengan mempertimbangkan kemudahan-kemudahan ini, masyarakat adat bariat yang tadinya tinggal di wilayah konda, nakna dan manelek mulai memanfaatkan wilayah adat mereka, yang sebelumnya hanya sebagai tempat mencari makan, untuk dijadikan tempat tinggal atau kampung hingga sekarang kampung ini dikenal dengan nama ”Kampung Bariat”. Begitulah, bapak yang aktif di RPH Bariat hingga pensiun tahun 1966, mengisahkan berdirinya Kampung Bariat yang saat ini menjadi tetangga Kampung Manelek tempat bapak Tigore menyisahkan masa tuanya bersama istri dan anak-anaknya.

Selain itu, menurut penuturan beberapa masyarakat sebagai pelaku sejarah, proyek ini telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat setempat baik kemampuan profesional di bidang pengelolaan hutan maupun di bidang ekonomi. Hal ini terbukti dari beberapa putra asli Bariat seperti Alm. Dominggus Kareth anak dari Policarpus Kareth yang dipercayakan untuk bekerja di Lembaga Penelitian Pertanian di Amban Manokwari. Pada masa pemerintahan Republik Indonesia lembaga ini berubah nama menjadi LP3M (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian Manokwari) dan sejak tahun 1964 diserahkan kepada Fakultas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (FPPK) Universitas Cenderawasih Manokwari dan pada tahun 2000 telah resmi menjadi Universitas Negeri Papua sekarang bernama Universitas Papua

Bapak Silas Saa, BSc,mantan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan, merupakan buah karya dari proyek ini. Menurut penuturan beliau, orang tua dan kerabatnya juga terlibat saat proyek ini masih aktif. Setelah mengunjungi kerabatnya yang bekerja dan tinggal di Manelek, beliau merasa tertarik untuk menggeluti bidang kehutanan dan akhirnya beliau memutuskan untuk melanjutkan studi di Jurusan Kehutanan FPPK Universitas Cenderawasih. Dan masih banyak lagi putra asli dari wilayah ini yang tidak dapat diceritakan satu per satu yang boleh berhasil saat ini dengan adanya kegiatan di Kawasan Hutan Bariat pada masa pemerintahan belanda.

Sejalan dengan waktu, berbeda pengambil kebijakan berbeda pula wajah dari kawasan hutan ini, kalau dulu Ia dapat menjanjikan senyum manis sekarang apakah ada tetesan air mata pertanda kesedihan yang ditampakkan kepada pemiliknya? jawabnya tidak, karena Ia masih menyimpan paras cantiknya di balik cadar kebijakan yang ada sekarang. Tantangan bagi kita sebagai ilmuwan dan para pengambil kebijakan untuk mampu membuka cadar kebijakan yang ada sekarang agar paras cantiknya dapat tersenyum manis lagi.

Ucapan terima kasih kepada bapak Kareth (Kepala Kampung Bariat), Bapak Tigore (Pensiunan RPH Bariat) dan Bapak Silas Saa (Mantan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan) yang sudah sekian lama menyimpan secarik catatan koyak ini. [NM]

Friday, August 7, 2020

Mengembalikan Kejayaan Sagu di Ekosistem Alamiahnya, Mahasiswa Fahutan Unipa melakukan PKT di Hutan Sagu Momi Waren - Manokwari Selatan

Manokwari -  Untuk mengembalikan kejayaan hutan sagu di ekosistem alamiahnya. Pada kali ini, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Papua melaksanakan Praktek Kerja Terpadu (PKT) bertempat di hutan sagu Kampung  Gaya Baru Distrik Momi Waren Kabupaten Manokwari Selatan, pada Selasa (28/07/2020).

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni serta Dosen Ekologi Hutan pada Fakultas Kehutanan Universitas Papua, Jimmy F. Wanma, S.Hut.,M.App.Sc menyampaikan bahwa PKT yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kehutanan dilakukan di Laboratorium Biologi dan Perlindungan Hutan, dengan konsep praktek kali ini terbagi dalam dua tim. Ada satu tim bekerja dengan biodiversitas yaitu dengan melihat variasi dari pada tanaman sagu mulai dari duri, buah daun dan sebagainya dan kemudian ada satu tim melihat potensi dari hutan sagu yang ada dengan mengukur rumpun, diameter dan jumlah tegakan sagu yang ada disini. 

"Pendekatan ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiwa Fakultas Kehutanan terhadap keanekaragaman hutan sagu yang kita miliki di Papua kemudian juga memberikan mereka sekaligus pengalaman lapangan tentang bagaimana mengumpulkan data bioderversitas maupun mengumpulkan data potensi dilapangan. Dua praktikum ini berjalan sekaligus diharapkan mahasiswa mempunyai pengalaman yang cukup tentang bagaimana melihat keanekaragaman hayati sekaligus menilai potensi yang terdapat di hutan sagu yang kita miliki" kata Jimmy.

Dosen Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua menambahkan kita menggunakan pendekatan hutan sagu momi waren karena saat ini paling terdekat dan hutan yang masih bagus yang berada di sekitar sini, kalo di Papua Barat secara umum Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Bintuni yang memiliki hutan sagu yang banyak tetapi untuk keperluan praktikum mahasiwa kami pikir daerah sini sudah sangat representatif untuk praktikum.

Selain Wakil Dekan Bidang Kemahasiwaan dan Alumni hal lain yang disampaikan oleh Kepala Laboratorium Biologi dan Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua, Dr. Ir. Nurhaida Sinaga, M.Si bahwa kami sengaja membawa anak-anak kami ke hutan sagu supaya mereka mengenal hutan sagu yang ada di Papua seperti apa dan mereka bisa melihat keanekaragaman hayati yang ada di dalam dan ekologinya. Karena luas hutan sagu di Papua hampir 85% dari hutan sagu di seluruh dunia tetapi riset-riset sagu di Papua sampai sekarang ini tidak terlalu banyak, jadi kami sedang kembalikan supaya ada banyak riset-riset yang bisa dilakukan sehingga hal-hal yang masih belum kita ketahui tentang sagu bisa diunggapkan.

"Seperti hari ini  ketika kita masuk di lokasi hutan sagu di momi waren kita menemukan memang semua jenis sagu berduri tapi kita bisa dapat hampir 20 varietas dari sagu berduri yang ada disini. Tiap kelompok dari 5 kelompok bisa mendapatkan 4 sampai dengan 5 varietas, itu juga belum kita masuk semua kedalam itu hanya menjadi pengalaman bagi mereka untuk nanti ketika mereka bekerja atau mereka terlibat dalam penelitian kedepan mereka bisa mengungkapkan lebih lagi tentang keanekaragaman sagu yang ada dan ini berguna untuk ilmu pengetahuan ataupun akan dikembangkan untuk penelitian selanjutnya. Karena persoalan dalam masalah sagu itu adalah varietas. varietas yang digunakan berbeda-beda itu akan mempengaruhi produk akhir dari sagu, tetapi jika kita sudah mengenal varietas kita bisa tahu varietas apa yang digunakan sehingga produk itu bisa lebih seragam, ujar  Nurhaida Sinaga. [NM]


Friday, July 24, 2020

Pencegahan dan Pengendalian Karhutla, KLHK gandeng KPH membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA)

Kelompok Masyarakat Peduli Api bersama Kepala Seksi Kebakaran Hutan dan Lahan BPPIKLH Wilayah Maluku Papua, Solu Batara, S.Hut.,M.H

Kelompok Masyarakat Peduli Api bersama Kepala Seksi Kebakaran Hutan dan Lahan BPPIKHL Wilayah Maluku Papua, Solu Batara, S.Hut.,M.H

Sorong Selatan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) melibatkan masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA). Pada kali ini, MPA kembali dibentuk di Provinsi Papua Barat, yang dilaksanakan di Distrik Sawiat Kabupaten Sorong Selatan, pada Selasa (21/07/2020)

Kepala Seksi Kebakaran Hutan dan Lahan BPPIKHL Wilayah Maluku Papua, Solu Batara, S.Hut.,M.H, menyampaikan “salah satu upaya penting dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan di tingkat tapak melalui pelibatan masyarakat. Pembentukan MPA adalah salah satu wujud pelibatan tersebut. MPA menjadi mitra KLHK dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. MPA dapat terlibat aktif dalam setiap kegiatan pengendalian karhutla, baik secara mandiri atau pun bersama-sama dengan KPH dan instansi lainnya”.

“Diharapkan MPA bisa menjadi pionir dan memberi contoh kepada masyakat dalam pembukaan dan pembersihan lahan tanpa membakar” tambah Solu. Dengan adanya MPA di desa-desa rawan diharapkan mampu menekan terjadinya karhutla. Setiap titik panas yang terpantau atau informasi adanya karhutla dapat segera dilakukan pengecekan dan pemadaman dini sebelum api meluas. 

Hal yang senada disampaikan juga oleh Kepala KPHP Sorong Selatan, Reynold Kesaulija, S.Hut.,M.Si, di Kantor KPHP Sorong Selatan “Pembentukan Kelompok MPA di Distrik Sawiat berdasarkan pada peta rawan Kebakaran Hutan dan Lahan yang diterbitkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sorong Selatan dimana Distrik Sawiat termasuk dalam daerah Rawan Karhutla.”

Distrik Sawiat merupakan salah satu wilayah pengelolaan KPHP Sorong Selatan dengan Fungsi Hutan Lindung, sehingga pembentukan MPA diharapkan dapat mencegah dan mengendalikan karhutla sehingga hutan tetap lestari ujar Reynold.

Pembentukan Kelompok Masyarakat Peduli api (MPA) sebanyak 3 kelompok yaitu Kelompok Gaharu dari Kampung Wendi, Kelompok Anggrek dari Kampung Sasnek dan Kelompok Cenderawasih dari Kampung Persiapan Lembah hijau Distrik Sawiat Kabupaten Sorong Selatan.

Koordinator 3 Kelompok MPA Distrik Sawiat, Hendrikus Krimadi menyampaikan bahwa “kita harus menjaga kelestarian hutan dan lahan, karena sekarang orang sudah tidak lagi menjaga hutan dengan dengan menebang dan membakar hutan”. 

“Kelompok MPA berharap dari KLHK dapat mendukung prasarana dan dana untuk meningkatkan kinerja kelompok MPA dalam sosialisasi ke kampung-kampung serta kegiatan pencegahan kebakarah hutan dan lahan” kata Krimadi. [NM]

Friday, June 5, 2020

Peserta Kelas Belajar Mendapat Motivasi Dari Dua Pejabat Provinsi Papua Barat


Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si   
dan Kepala Dinas Kominfo Persandian dan Statistik Provinsi Papua Barat Frans Pieter Istia, S.Sos,MM

Manokwari,- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si dan Kepala Dinas Kominfo Persandian dan Statistik Provinsi Papua Barat Frans Pieter Istia, S.Sos,MM memberikan motivasi kepada peserta kelas belajar menulis berita dan edit video, yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua bekerjasama dengan Perkumpulan Bentang Nusantara (Bentara) di Pondok Bentara, Rabu (13/05/2020).

Prof. Charlie sapaan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, menyampaikan seorang jurnalis sama dengan seorang peneliti yang harus mempunyai integritas sebagai penulis yang memiliki sifat disiplin dan kejujuran dalam menyampaikan data dan informasi tanpa memanipulasi dan harus berimbang.

“Dengan kita menulis secara tidak langsung mengangkat profile kita, jadi semakin banyak menulis orang kenal nama menambah curiculum vitae kita pada saat kita apply untuk beasiswa atau pekerjaan akan menambah nilai kita” kata Prof. Charlie.

Prof. Charlie juga mengatakan jangan pernah kita merasa puas dengan tulisan yang ada. Tetapi dengan mengeksplor dan melatih diri, dengan rajin membaca dan menulis dengan metode, teknik menulis yang baik dengan sikap kerendahan dan kesungguhan hati dan tulus serta iklas .

Selain Prof. Charlie hal lain yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Provinsi Papua Barat bahwa kegiatan kelas belajar menulis berita dan edit video merupakan pendidikan informal seperti ini lebih efektiif dibandingkan pembelajaran formal dikarenakan daya tangkap lebih cepat dan bersifat aplikatif.

“Dalam rangka pola pembinaan, kita bisa menjalin kemitraan menciptakan sumberdaya manusia untuk menciptakan lapangan kerja sendiri dan mencari hidup sendiri. Mereka bisa mendapat profit bagi kehidupan mereka dari apa yang mereka dikerjakan,” tandas Frans Pieter Istia.

Kepala Dinas Kominfo Persandian dan Statistik menambahkan bahwa teknologi sekarang ini bisa mengupdate sebuah video yang sangat menarik dimana yang mengunjungi ribuan bahkan jutaan serta mendapat profit yang sangat hebat dari hal yang diciptakan sendiri.

Para peserta setelah mendengar motivasi dari kedua narasumber itu terlihat peserta sangat antusias dalam proses mengikuti pembelajaran. Mereka akan membuktikan bahwa kegiatan yang diikuti akan memberikan dampak yang besar bagi mereka dan masyarakat. (NM)