Sunday, October 11, 2020

Kondisi Biogeofisik Kawasan Hutan Kota Teminabuan - Sorong Selatan

Peta Luasan Blok Perkantoran dan Hutan Kota Teminabuan (foto : dishut sorsel)

Sorong Selatan - Kawasan Hutan Kota Teminabuan adalah kawasan hutan yang menyatu dengan lokasi perkantoran pemerintah daerah dan perumahan staf. Secara keseluruhan, luasan areal kawasan hutan kota, perkantoran, dan perumahan staf adalah 49,56 ha. Sedangkan luasan masing-masing peruntukan kawasan adalah sebagai berikut Hutan Kota 25,46 ha, Perkantoran 15,21 ha dan Perumahan : 8,89 ha. 


A. Kondisi Biologis Kawasan

Kondisi Hutan Alam Primer

Kawasan Hutan Alam Primer Perkantoran Kabupaten Sorong Selatan merupakan hutan alam yang sengaja dibiarkan pada saat pembukaan areal untuk perkantoran. Hutan ini telah mengalami degradasi namun komposisi tegakan masih menunjukan karakter hutan primer. Komposisi jenis yang terdapat dalam kawasan ini tergolong sedang. 

Hasil kajian menunjukan bahwa kawasan hutan alam primer ditumbuhi oleh 35 jenis tumbuhan berkayu, yaitu : Aglaia odorata, Alstonia scholaris, Aralia braciata, Archidendron parviflorum, Artocarpus altilis, Canarium hiersutum, Celtis phillipinensis, Cleithantus mirianthus, Dendrocnide sp., Dracontomelon dao, Dracontomelon minor, Endospermum mollucanum, Ficus laevigata, Ficus robusta, Homalium foetidum, Horsfieldia irya, Inocarpus vagiferus, Leea aequleacta, Lepiniopsis ternatensis, Lithocarpus sp., Macaranga gigantean, Mangifera sp., Melycope sp., Neonauclea sp., Pangium edule, Paraltocarpus sp., Picrasma javanica, Pimelodendron amboinicum, Pometia pinnata, Rhus sp., Spatiostemon javensis, Spondias cytherea, Tabernaeamontana sp., Terminalia complanata dan Theysmaniodendron bogoriensis. 

Berdasarkan struktur atau tatanan masyarakat tumbuh-tumbuhan dalam kawasan hutan ini, Arthocarus artilis. merupakan jenis yang sangat dominan, baik dari segi kepadatan, penyebaran, maupun penguasaan ruang tumbuh. 

Kondisi Hutan Alam Sekunder

Hampir sebagian besar blok hutan perkantoran adalah Hutan Alam Sekunder. Hutan ini terdiri atas 3 kelompok hutan sekunder yakni hutan sekunder awal, hutan sekunder peralihan dan hutan sekunder lanjut. 

Hutan sekunder awal ditandai oleh keberadaan jenis-jenis pioneer seperti Macarangga spp, Tremna sp dan Premna spp. Sedangkan untuk hutan sekunder peralihan adalah hutan yang telah menunjukkan keberadaan dari jenis-jenis tumbuhan hutan primer yang tumbuh baik sebagai anakan maupun pancang dan dalan hutan ini jenis-jenis pioneer telah mengalami perkembangan dalam tinggi dan diameternya yang menunjukan diameter tungkat pohon. Selanjutnya untuk hutan sekunder lanjutan telah terlihat pohon-pohon yang merupakan jenis tumbuhan hutan primer seperti Pometia dan Myristica sp. 

Komposisi jenis tumbuhan berkayu pada areal hutan alam sekunder antara lain Rhus sp., Artocarpus altilis, Alstonia macrocarpa, Celtis phillipinensis, Neonauclea sp., Artocarpus freisianus, Pometia pinnata, Theysmaniodendron bogoriensis, Spatiostemon javensis, Horsfieldia laevigata, Homalium foetidum, Cryptocarya sp., Fagraea rasemosa, Canarium indicum dan Koordersiodendron pinnatum

Potensi Hasil Hutan Non Kayu

Hasil hutan non kayu yang terdapat pada kawasan hutan kota perkantoran dapat digolongkan dalam beberapa Kelompok, yaitu paku-pakuan (Pterydophyta), pandan (Pandanaceae), jahe-jahean (Singiberaceae), serta rotan dan palem (Arecaceae/Palmae). Palem dan Rotan merupakan kelompok Hasil hutan non kayu yang memiliki jumlah jenis tertinggi, kemudian diikuti oleh paku, dan pandan serta jahe-jahean. 

Palem dan Rotan (Arecaceae / Palmae)

Palem dan Rotan di Areal Hutan Kota
(foto : dishut sorsel)
Jenis – Jenis palem yang terdapat di kawasan hutan kota perkantoran, umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai tanaman hias dan bahan baku pembuatan atap dan lantai rumah. Jenis – jenis palem yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias antara lain Hydriastele cosata, Dransfieldia micrantha, dan Licuala sp. Sedangkan bahan baku untuk pembuatan lantai dan atap rumah, masyarakat memanfaatkan jenis Orania disticha dan Arenga pinnata. Jenis Calamus sp. merupakan salah satu dari tiga jenis rotan yang tergolong berkualitas baik. Hingga saat ini masyarakat hanya memanfaatkannya sebagai pengganti tali untuk mengikat. Jenis-jenis palem dan rotan yang terdapat pada kawasan hutan perkantoran yatu Hydriastele cosata, Hydriastele flabelata, Hydriastele sp., Rhopaloblaste ceramica, Drymophleous oliviformis, Dransfieldia micrantha, Sommeria leucophylla, Areca macrocalyx, Orania disticha, Arenga pinnata, Licuala sp., Calamus vistitus, Calamus aruensis dan Calamus sp.

Paku (Pterydophyta)

Tumbuhan paku dijumpai tumbuh menyebar terutama di hutan primer dengan sedikit gangguan. Pada areal yang terbuka jenis-jenis Nephrolepsis biseriate dan N. hirsute tumbuh melimpah dengan ketinggan hingga 1 m dan pada areal yang agak ternaungi dijumpai kelompok paku-pakuan dari genus Drypetes rumbuh memenuhi areal. Terdapat juga jenis Selaginella sp. Beberapa tumbuhan paku epifit tumbuh pada batang pohon yakni Asplenium nidus, Drynaria sp dan Belchum sp,. Pemanfaatan tumbuhan paku antara lain untuk pangan yakni dari jenis Drypetes dan juga untuk pembungkus buah-buahan agar tidak cepat layu serta dimanfaatkan juga sebagai tanaman hias. Jenis – jenis tumbuhan paku pada kawasan hutan kota yatu Asplenium nidus, Lindsaea sp., Drynaria sp., Drypetes sp., Nephrolepsis bisseriate dan Nephrolepsis hirsitula

Pandan (Pandanaceae)

Jenis-jenis Pandan di Areal Hutan Kota
(foto : dishut sorsel)
Tumbuhan pandan merupakan salah satu kelompok hasil hutan non kayu yang banyak ditemukan di hutan-hutan Papua. Terdapat sebanyak 3 genus pandan di Papua namun yang ditemukan dalam blok hutan perkantoran di Teminabuan ini adalah genus Pandanus dan Genus Freycinetia. Pandanus adalah marga pandan tegak yang selain ditemukan di areal terbuka dapat juga ditemukan hidup di bawah areal tertutup tajuk pohon. Berbeda halnya dengan Freycinetia yang memerlukan pohon inang dan kondisi lingkungan dengan kelembaban tinggi. Jenis ini ditemukan dalam blok hutan primer yang sedikut terganggu dan blok hutan yang memiliki sungai kecil. Masyarakat memanfaatkan Freycinetia sebagai daun pembungkus sagu terutama jenis Freycinetia macrostachya, sementara itu untuk Pandanus dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan atap rumah, tikar, maupun sebagai alat penangkap ikan atau udang, juga untuk pembuatan mantel hutan. Jenis-jenis pandan pada hutan kota teminabuan yatu Pandanus tectorius, Pandanus furcatus, Pandanus sp., Freycinetia macrostachya, Freycinetia marginata, Freycinetia scandens dan Freycinetia sp.

Jahe-jahean (Zingiberaceae)

Jenis-jenis Jahe-jahean di Areal Hutan Kota 
(foto : dishut sorsel)
Pada hutan perkantoran dalam blok hutan primer yang tersisa terdapat beberapa jenis jahe-jahean yang tumbuh subur di bawah tegakan hutan yang lebat,. Kelompok tumbuhan ini memiliki potensi sebagai tanaman hias kerena bunganya yang indah baik yang terdapat di ujung batang atau terminal maupun yang tumbuh dari dalam tanah sebagai tunas bunga. Tunas bunga yang kemudian menghasilkan buah dari kelompok Alpinia sp ini dapat dimakan sebagai buah segar. Adapun jenis-jenis tumbuhan jahe-jahean sebagai berikut Alpinia galaga, Alpinis sp1. Zingiber sp1, Zingiber sp2, Alpinia sp2 dan curcuma sp

Secara umum semua tanaman dapat menyerap CO2 dan menghasilkan O2 tetapi tanaman yang dianggap efektif dalam melakukan aktifitas ini adalah tanaman jenis Ficus benyamina. Untuk tanaman yang berfungsi sebagai penyerap bau dalam wilayah ini adalah jenis Pandanus sp., Sedangkan jenis tanaman yang dapat menjaga pelestarian air tanah adalah jenis aren (Arenga pinnata).

B. Kondisi GeoFisik Kawasan

Iklim 

Data iklim menunjukkan bahwa tipe iklim di wilayah Sorong Selatan adalah tipe iklim A berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, 1951. Tipe iklim A mengindikasikan bahwa daerah survei termasuk wilayah tropika basah dengan curah hujan lebih dari 2.000 mm tahun-1 dan relatif merata sepanjang tahun. Suhu udara rerata minimum bulanan adalah 23,9°C dan rerata maksimum 32,9°C. Berdasarkan data suhu udara dapat diklasifikasikan bahwa daerah hutan kota mempunyai regim suhu panas (isohypertermik) yaitu suhu tanah pada penampang lebih dari 22°C, dan perbedaan rerata suhu tanah tertinggi dengan rerata terendah <6°C (Soil Survey Staff, 2003). Curah hujan rerata tahunan berkisar antara 2300 sampai 3700 mm dengan jumlah hari hujan 214 sampai 258 hari. Data tersebut menunjukkan bahwa, bulan basah (>100 mm bulan-1) terjadi sepanjang tahun dan tanpa bulan kering (<60 mm bulan-1) menurut kriteria Schmidt dan Ferguson (1951). 

Berdasarkan data iklim mikro, maka regim kelembaban tanah tergolong udik karena penampang kontrol tanah berkategori kering selama ≤ 3 bulan (< 90 hari) dalam tahun-tahun normal. Rerata kelembaban udara bulanan mencapai 86%, artinya daerah hutan kota termasuk daerah lembab. Penyinaran matahari rerata bulanan 53,12%. 

Geologi

Data geologi menunjukkan bahwa daerah Sorong Selatan khususnya wilayah teminabuan terbentuk melalui proses lipatan, patahan dan angkatan yang membentuk plateau dengan ketinggian 300 sampai 400 m di atas permukan laut. Daerah ini terbentuk dari endapan batu kapur pada masa tersier muda. Formasi batuan kapur berliat, termasuk ke dalam mergel atau batu kapur bermergel. Batuan kapur yang ada sebagian berkonsentrasi kuarsa tinggi. Umumnya di daerah ini terdapat karst yang berupa dolina, kuala dan drainase di bawah tanah (Schroo, 1963).

Topografi

Areal Hutan Kota bertopografi datar, bergelombang sampai berbukit dengan kemiringan 3% sampai 8%. 

Sifat-sifat Fisik dan Kimia Tanah 

Hasil pengamatan karakteristik tanah dan analisis di laboratorium menunjukkan bahwa tekstur tanah pada lapisan atas (0-30 cm) adalah liat, lempung berliat, liat berdebu, lempung liat berdebu dan lempung liat berpasir. 

Struktur gumpal dan remah berukuran sedang sampai kecil, konsistensi lekat, plastis dan teguh. Struktur tanah pada areal perbukitan berbentuk kubus dan remah, konsistensi agak lekat sampai lekat. Berdasarkan sistem klasifikasi USDA (2001), tanah pada satuan penggunaan ini termasuk Ordo Inceptisols. Sifat-sifat kimia tanah menunjukkan bahwa pH-H2O berkisar 7,0 sampai 8,2 (netral sampai alkalis), kadar C-organik, Nitrogen, Kalium, dan KTK tergolong rendah sampai sangat rendah, sedangkan P-tersedia berkadar sedang. Rendahnya bahan organik dan KTK mengindikasikan bahwa tanah tersebut berstatus kesuburan rendah dengan faktor pembatas utama adalah C-organik dan N. [NM]


Saturday, October 10, 2020

Berbagi Cerita Perjalanan Raja Anggok

Tugu Raja Anggok di Kampung Wersar - Teminabuan (foto : reynold)

Sorong Selatan –  Bapak Melkianus Konjol merupakan keturunan ketiga dari Raja Anggok dan juga sebagai Tokoh Adat di daerah Teminabuan maupun di Kampung Wersar, berbagi cerita tentang Perjalanan Raja Anggok 
(09/09/2020) 

Melkianus Konjol bercerita perjalanan Raja Anggokpada jaman dulu itu ya mau dibilang dia orang jahat boleh, karena beliau melakukan jual-beli budak dan juga mengatur strategi perang  serta jalani adat seperti apa segala sesuatu ada sama dia. Sehingga beliau ditangkap, dibawa dan dipenjarakan di Tidore. Setelah dari sana kembali hampir ada 3 tahun lamanya disana, jadi penduduk tahu bahwa dia sudah meninggal, ternyata dia kembali. Dia dari sana kembali sudah muslim, dia sudah sunat, membawa Al-Quran dan menggunakan songko merah serta membawa tempat pengalas sembayang (sajadah). 

Bapak Melkianus Konjol, keturunan ketiga
dari Raja Anggok (foto : Hafsah)

"Tidak lama setelah itu datang pula Sultan Tidore melalui Fak-Fak, karena waktu itu disini masyarakat belum tahu bahasa melayu, hanya beliau karena mungkin lama di Tidore sana namun hanya sedikit-sedikit sehingga yang menjadi juru bahasa dibawa dari Fak-Fak yaitu Raja Rombati, Atiati, Fatagar dan Patipi,  mereka datang dengan Sultan sampai di Teminabuan dan melihat banyak penduduk yang ada disana, mereka kemudian bertanya kepada penduduk kira-kira di tempat ini siapa yang bisa lihat dia mampu mengurusi wilayah ini tunjukkan dia supaya kami bawa untuk lantik jadi raja (Raja Kaibus) karena wilayah ini sangat luas, dengan suara bulat mereka mangajukan Agustinus, dia waktu itu belum baptis. Mereka bawa dia sampai di Fak-Fak untuk pelantikan disana dimana pelantikan itu ditandai dentuman meriam buatan Portugis sebanyak 3 kali, berarti sah dan diberikan keris komando untuk dia melaksanakan tugas" ujar Konjol.

Setelah itu dia jalankan roda pemerintahan, dari Teminabuan sampe ke Maybrat dan sampai di muara Worongge dan lurus ke laut kosong itu sampai di Sailolo termasuk  Sorong dan Sausapor sampai jalan yang dari Saluk kesini itu dia punya semua, ini masuk wilayah Kaibus. Karena terlalu luas, dia minta sama Sultan tapi lewat 4 orang raja tadi, Bicara dengan Sultan dulu bagaimana ini wilayah luas bisa saya tambah 3 raja muda ? Sultan setuju. Dia ambil 1 dari Kampung B namanya Isak Thesia tapi nama panggilan itu Blesi. Terus di Ayamaru Maybrat namanya Woflebru itu dari Solosa, terus dia ambil dari pantai Aitinyo masuk dan dibawa untuk pelantikan, setelah pelantikan itu selesai, wilayah ini dibagi, jadi dia punya tugas hanya kontrol kesana ke Raja Ampat sana dia kembali, begitu dia meninggal bapak yang ganti, bapak Marten Kondjol melaksanakan tugas itu, dia jalani tugas itu sampai tahun 1957. 

"Setelah tahun 1957 Raja Arfan ke Manokwari karena di Manokwari itu kedudukan residen disana. Dia minta panggil Raja Kaibus untuk kita bicara ulang karena saya punya wilayah sangat kecil kalau bisa minta untuk dia bagi wilayah dengan saya. Masyarakat Wersar membawa beliau dengan penggayu perahu dayung sampai ke Sorong dan berlabuh di Remu, paginya baru ketemu di kantor. Raja Arfan ajukan alasan itu, dan bapak Marthen setuju, jadi wilayah dibagi 2 dimana dari Muara Klamono ke sebelah Seget itu untuk Raja Arfan saudara dari Raja Ampat sedangkan dari sebelah kali Klamono ke Teminabuan itu saya punya. Tahun 1957 itu yang mereka bagi wilayah itu, kalau tidak wilayah itu masih utuh" kata Konjol

Melkianus Konjol juga mengungkapkan bahwa semua jabatan sampai di Maybrat, dimana ada Raja Kambuaya, Raja Isir dan Raja yang di Maybrat semua itu  mulai dari sini, dan ada juga jabatan kapitan, mayor dan beberapa jabatan itu semua berasal dari sini, termasuk mendatangkan  guru juga itu langsung dari kebijakan raja. [NM










Hutan Kota di Pusat Pemerintahan Sorong Selatan : Bincang santai dengan Kepala CDK Sorong Selatan

Hutan Kota di pusat perkantoran Bupati Sorong Selatan (foto : Zulfikar M)

Sorong Selatan - Kepala UPTD Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah VII Sorong Selatan, Donny Natalion Bosawer, S.Hut.,M.Sc, bercerita tentang keberadaan Hutan Kota yang berlokasi di pusat pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan (12/08/2020). 

"Boleh diceritakan sejarah pembentukan hutan kota?"

Donny Natalion Bosawer, S.Hut.,M.Sc, 
Kepala UPTD Cabang Dinas Kehutanan
Wilayah VII Sorong Selatan (foto : M. Rizky)
Terimakasih kesempatan yang diberikan untuk saya menjelaskan secara teknis hutan kota. Sebelum masuk lebih jauh, saya jelaskan sedikit sejarah hutan kota. Kenapa sampai dibentuk hutan kota? pada waktu itu pak Bupati Drs. Otto Ihalauw perintahkan kepada kami 
Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan (dimana saat sebelum adanya UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah kita masih bergabung dengan SKPD di Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong Selatan), atas arahan bapak Bupati, kita cek hutan yang berada pada areal perkantoran Bupati, kebetulan areal perkantoran Bupati itu memiliki hutan yang luas, sehingga pada saat itu saya sebagai Kabid Produksi dan RHL dan pak Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan pada saat itu pak Agustinus Wamafma, S.Hut, memerintahkan untuk kita, saya bersama-sama dengan pak Kepala KPH pada waktu itu pak Reynold Kesaulija untuk melakukan survey dan mentracking areal hutan yang berada di areal perkantoran Bupati Sorong Selatan  serta menyiapkan  draft SK hutan kota.

Jadi kedepannya perencanaan untuk areal hutan kota, kalau sudah terbit SK Bupati tentang Hutan Kota  maka tidak boleh ada bangunan-bangunan lain dalam areal hutan kota, kalau seandainya kedepannya  jumlah pegawainya bertambah, kantor harus dibuat tingkat dimana tidak boleh membuka hutan lagi, karena sudah ditetapkan dengan SK Bupati. Pada waktu itu (13/7/2015) Bapak Bupati mengeluarkan SK Hutan Kota, dengan Nomor 522/167a/1355/VII/2015 dengan luasan 25,36 Ha, dimana SK-nya masih berlaku sampai dengan sekarang 

Papan Informasi (foto : M. Rizky)
Pada waktu itu kita (Dinas Kehutanan) mengelola dengan baik, k
ita juga telah melakukan tata batas hutan kota, mamasang papan informasi atau papan penyuluhan, membuat gapura dan jalur tracking, diharapkan hutan kota digunakan sebagai areal santai dan berwisata dan lain-lain. 

Tetapi sayangnya ketika UU 23 itu berlaku, kita secara otomatis pegawai atau ASN Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan menjadi ASN pada Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, sehingga kami harus keluar dari kantor induk dan kami bergabung dengan Dinas Kehutanan dan menempati kantor yang sekarang kita tempati bersama-sama dengan KPH. 

"Bagaimana upaya Pemerintah agar sumber daya terjaga dengan baik ?"

Kita berupaya melakukan sinergitas dan koordinasi dalam pengawasan dan pengelolaan hutan, disini (Sorong Selatan), ada 3 UPTD dibawah Dinas Kehutanan Provinsi yang ditetapkan oleh Gubernur Papua Barat, yaitu  Cabang Dinas Kehutanan dengan tugas pokoknya administrasi, regulasi dan pengawasan serta ada KPHP Unit V dan KPHL Unit VI yang tugas pokoknya melakukan pengelolaan hutan pada wilayah kerjanya.

Tapi pada proses di lapangan kami bekerja sama dengan baik, dimana  ada Bakti Rimbawan di KPHP maupun KPHL tetapi juga ada Polhut dan Penyuluh di CDK. Kegiatan yang dilakukan antara lain kegiatan patroli (perlindungan hutan) dan pengawasan peredaran di pos-pos. Banyak hal yang didapat misalnya penebangan liar, tetapi kita memberikan arahan dan pembinaan kepada masyarakat untuk bisa memproses perijinan seusai aturan perundangan yang telah ditetapkan

Kendala kita di Sorong Selatan ini, areal hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) sudah sangat banyak, tetapi kadang bermasalah dengan masyarakat. Ada perusahaan kelapa sawit yang IPK tidak aktif sampai sekarang sehingga membuat masyarakat tetap mengolah kayu di wilayah itu tetapi tidak memiliki ijin dan sebagainya, sehingga harapan kami kedepan harus bekerjasama dengan dinas terkait. Kami sudah melaporkan ke bapak Kepala Dinas untuk mereview dan memeriksa kembali ijin-ijin yang telah ada, sehingga mempermudah dan meligitimasi kami dalam pengawasan. Sedangkan areal yang berada dalam areal KPHP/KPHL bisa bermitra (kemitraan kehutanan) dengan KPH agar dapat bekerja sama untuk menurunkan laju kerusakan hutan agar hutan lestari masyarakat sejahtera.

"Apa Manfaat dari Hutan Kota ?"

Gapura Hutan Kota (foto : M. Rizky)
Manfaat Hutan kota sama seperti hutan-hutan yang lain, namun secara khusus hutan kota sorong selatan telah dibuat jalur tracking agar masyarakat bisa datang dan menikmati dibawah kerindangan pohon (tidak kepanasan), menghirup oksigen dengan baik, bisa juga sebagai tempat santai dan rekreasi/wisata dan sebagainya. 

Tetapi sekarang, kami sudah tidak punya kewenangan lagi untuk hutan kota, karena itu sudah masuk dalam areal atau lokasinya Pemerintah Kabupaten. Jadi Bapak Kepala Dinas memang ada memerintahkan kepada kami untuk mencari areal baru untuk hutan kota, tetapi belum dapat sampai dengan hari ini. 

"Apa yang ingin bapak sampaikan kepada masyarakat agar dapat menjaga hutan ?"

Kami selalu menyampaikan kepada masyarakat bahwa hutan ini adalah ibu, sebelum ada apa-apa masyarakat hidup dan tinggal bersama-sama, jadi kita harapkan tetap akan menjadi ibu bagi mereka sehingga mereka bisa mengolah dengan bijak. Kadang masyarakat melihat hutan cuma kayu, tetapi kita selalu berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memberikan pencerahan yang baik kepada mereka, agar mereka bisa mengerti dan memahami.  

Untuk lebih teknis di lapangan ada KPH, KPH sepengetahuan saya itu mempunyai resort dan mempunyai Bakti Rimbawan, dimana kami  selalu bersama mengarahkan masyarakat, tetapi kadang-kadang masyarakat mengerti cuma memanfaafkan hasil hutan (kayu) dengan alasan ekonomi dan sebagainya. 

Kami juga sebenarnya mengharapkan sekali Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong Selatan dimana selalu dalam pertemuan-pertemuan kami meminta bantuan untuk bagaimana bersama mengalihkan pemikiran masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan kayu itu tidak harus merusak hutan, dengan cara mengalihkan perhatian mereka dari mengolah kayu ke hasil hutan bukan kayu serta jasa lingkungan seperti yang sudah dikerjakan oleh KPHP Sorong Selatan.

Tetapi kami sangat mengharapkan Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan mendukung dalam hal ini instansi terkait, misalnya beberapa waktu lalu teman-teman KPHP buat tempat wisata di  Kampung Wendi, itu sempat saya lihat Bupati foto, maksud kami ketika sudah ada tempat wisata yang sudah dibuat seperti itu harus ada kerjasama yang baik dari Pemerintah Daerah misalnya akses jalan masuk harus mereka buat. Kalau Bupati berdiri di tempat yang, teman-teman buat dari papan ya? papan itu mungkin bisa ganti dengan besi atau ada tangga naik disitu kita bisa kerja sama. Sehingga masyarakat yang tadinya dia bicara kayu sudah tidak bicara kayu langsung bicara mengelola tempat wisata, tetapi juga Dinas Pariwisata misalnya promosi dan lain sebagainya.

Untuk menurunkan laju kerusakan hutan itu tidak bisa hanya kami orang Kehutanan yang mengurusnya, tetapi diharapkan semua instansi baik kami di provinsi maupun teman-teman vertikal pusat yang ada disini maupun yang paling utama adalah teman-teman kabupaten, teman-teman Bappeda maupun dinas-dinas yang bisa mendukung dan membantu Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat dan kami disini sama-sama untuk menjaga hutan bersama-sama dengan masyarakat. [NM]

Hutan Kota Sorong Selatan (foto : Zulfikar M)


Tuesday, October 6, 2020

Mengenal Lebih Dekat Teh Sarang Semut SW

Kemasan Teh Sarang Semut SW
(foto : KPHP Sorsel)

Sorong
- Sarang semut merupakan tumbuhan dari kerabat Rubiaceae yang bersifat epifit, artinya tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain tetapi tidak hidup secara parasit pada inangnya dan berasosiasi dengan semut. Bagian luar tanaman ini diselubungi duri yang melindunginya dari pemangsa herbivora, yang menarik di dalamnya terdapat rongga-rongga yang saling terhubung. Rongga-rongga ini dijadikan rumah oleh kawanan semut sehingga tanaman ini lazim disebut sarang semut . Secara tradisi, sarang semut digunakan sebagai tanaman obat oleh masyarakat pedalaman di bagian barat Wamena, Papua. Suku-suku di Bogondini dan Tolikara lazim memanfaatkannya untuk mengatasi rematik dan asam urat (Crisnaningtyas, F, & Andri T. Rachmandi. 2010). 

Secara etnofarmakologi tumbuhan sarang semut telah digunakan sebagai obat oleh masyarakat pedalaman Papua, diantaranya penyembuh radang, menguatkan imunitas tubuh dan mengatasi nyeri otot. Salah satu khasiat utamanya adalah membantu pengobatan berbagai jenis tumor dan kanker seperti: kanker otak, kanker payudara, kanker hidung, kanker lever, kanker paru-paru, kanker usus, kanker rahim, kanker kulit, kanker prostat dan leukemia (Mardany, M.P, Linus, Y.C & Aditya K.Karim. 2006). 

Myrmecodia berasal dari kata myrmikodes yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti mirip semut atau dikerumungi semut. (Wulan, dkk. 2017). Sarang semut merupakan salah satu tumbuhan epifit dari Hydnophytinae (Rubiaceae) yang dapat bersimbiosis dengan semut dan dikatakan bersifat epifit karena tumbuhan ini menempel pada tumbuhan lain tetapi tidak hidup secara parasit pada inangnya sehingga hanya sebagai tempat menempel saja. Tumbuhan sarang semut memiliki kekhasan, yakni ujung batangnya menggelembung (hypocotyl), berbentuk bulat saat muda, lalu menjadi lonjong memendek atau memanjang setelah tua. Bagian luar tumbuhan ini diselubungi duri yang melindunginya dari pemangsa herbivora, di dalamnya terdapat rongga-rongga yang saling terhubung. dan dijadikan rumah oleh kawanan semut sehingga tumbuhan ini lazim disebut sarang semut (Setiawati & Crisnaningtyas, 2013)

Sarang semut yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu obat tradisional dan memiliki potensi sebagai antioksidan alami yang mengandung flavonoid, tanin, dan tokoferol (Erminawati dan Naufalin, 2013). Menurut Wabia & Siburian (2019) tumbuhan sarang semut mampu hidup pada daerah hutan sekunder dan daerah bekas perladangan dengan ketinggian 250 hingga 2.500 meter dari permukaan laut.

Tumbuhan Myrmecodia sp. (foto : kphp sorsel)

Berdasarkan beberapa hasil penelitian manfaat sarang semut untuk kesehatan antara lain sebagai antioksidan, antioksidan dan anti mikroba serta efektif dalam membantu penyembuhan berbagai macam penyakit lainnya, misalnya gangguan jantung, ambien (wasir), reumatik, stroke ringan mapun berat, maag, gangguan fungsi ginjal dan prostat, pegal linu, melancarkan dan meningkatkan jumlah air susu ibu (ASI), melancarkan peredaran darah, dan memulihkan gairah seksual. Salah satu upaya untuk memberikan nilai tambah dari tanaman sarang semut yang pengolahannya, yaitu memanfaatkan serbuk umbi tanaman sarang semut sebagai minuman seduhan yaitu teh. 

Sarang semut yang berkualitas dipengaruhi oleh aspek jenis sarang semut, lingkungan tumbuh sarang semut, umur panen sarang semut, penanganan pascapanen sarang semut dan cara pengolahan sarang semut. ciri sarmut yang berkhaisat mempunyai panjang sarang semut sekitar 50 cm dengan akar yang menempel pada pohon inang, batang tanamannya berwarna coklat hingga keabu-abuan, sarang semutnya menggelembung menyerupai umbi dengan diameter sekitar 30 cm, bagian dalam batang berbentuk rongga bersekat-sekat, menyerupai labirin, sarang semut ada yang berduri ada juga yang tidak berduri, memiliki daun tunggal, berwarna hijau, berbentuk jorong (pangkal tumbul dan ujung meruncing), bertangkai, tersusun menyebar namun lebih banyak terkumpul di ujung batang, tepi rata. permukaan daun halus, tulang daun berwarna putih. Aspek lingkungan sarmut yang mempengaruhi kualitas sarang semut yaitu jenis pohon sumber hara, kondisi kesuburan tanah, serta faktor suhu, cahaya, dan kelembaban. Sarang semut yang masih muda memiliki panjang yang mencapai 5 cm dengan diameter 3-5 cm dimana setelah matang panjangnya bisa mencapai 50 cm dan memiliki diameter sebesar 15-30 cm dengan berat umbi basah  5 Kg.

Aspek penangangan pasca panen merupakan faktor yang sangat penting, pelaksanaan kagiatan paska panen yang perlu diperhatikan yaitu tempat kerja dan peralatan yang digunakan harus bersih, air yang digunakan harus berkualitas air minum. ketebalan irisan sarang semut setipis mungkin agar cepat kering (kadar air ± 7 %). pengeringan sarang semut dilakukan secepat mungkin dan jika pengeringan tertunda maka harus ditempatkan pada tempat yang bersih dan kering, pengemasan sarang semut harus menggunakan jenis kemasan yang tepat agar tidak lembab kembali. Dalam proses pengolahanatau produksi yang perlu diperhatikan yaitu tempat kerja dan peralatan yang digunakan harus bersih, air yang digunakan harus berkualitas air minum, pengolahan dilakukan dengan tahapan yang benar serta tidak menggunakan/menambah bahan-bahan yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Pengolahan sarang semut yang telah dilakukan oleh masyarakat di Kampung Wendi dan Sasnek secara sederhana yaitu dengan membuat seduhan sarang semut dalam bentuk lempengan dari hasil irisan sarang semut yang telah dikeringkan. Untuk meningkatkan nilai tambah dari sarang semut maka KPHP Sorong Selatan memperkenalkan dan mengajarkan teknologi sederhana dalam pemanfaatan sarang semut sebagai teh celup sarang semut. Selain itu menerapkan SOP dalam proses pemanenan, pengolahan pasca panen dan proses pengolahan atau produksi teh sarang semut. Kelebihan seduhan sarang semut dalam bentuk teh celup dibandingkan lempengan adalah lebih praktis dan ekonomis dan tidak membutukan waktu yang lama untuk menyajikan teh sarang semut.

Proses Pembuatan Teh Sarang Semut
(foto : kphp sorsel) 

Pembuatan teh sarang semut yang dibuat dibagi dalam 3 tahapan yaitu penyiapan sarang semut, pegeringan sarang semut, pembuatan serbuk/bubuk sarang semut. Penyiapan sarang semut diawali dengan pemilihan sarang semut yang telah tua/matang kemudian dibuang daun-daun di bagian ujung sarang semut menggunakan pisau kemudian dikupas kulit luar sarang semut memakai pisau atau golok dan buang bagian yang rusak/cacat setelah itu dicuci sarang semut untuk hilangkan kotoran yang menempel, kemudian sarang semut terkupas dibelah 4 bagian, lalu ambil bagian yang berongga saja dimana umbi tersebut harus dibersihkan dari semut yang ada di rongga-rongga. Sarang yang telah dikupas diiris tipis memakai pisau tajam atau mesin pengiris (slicer) setebal ± 3 mm kemudian dikeringanginkan dalam ruangan ber-AC pada suhu 20°C, sekitar 3 hari, atau dijemur di bawah sinar matahari selama 5-6 hari. Potong–potong sarang semut yang telah kering tersebut menjadi beberapa bagian kecil kemudian diblender sarang semut sampai halus dan dilakukan pengayakan (ukuran 40 - 60 mesh) setelah dimasukkan ke dalam kantong teh celup kemudian disealer kantong tersebut dan dikemas dalam kemasan sekunder. Pemanfatan sarang semut dibuat menjadi kemasan teh celup sarang semut pada Kampung Sasnek dan Wendi dikenal dengan brand Teh Sarmut SW (Sasnek-Wendi)

Cara membedakan sarang semut asli dan palsu secara sederhana yaitu dengan menggunakan air panas dan melihat tekstur dari sarang semut, jika sarang semut asli diseduh dengan air panas maka airnya masih akan terlihat bening sebaliknya jika airnya berubah menjadi kuning keemasan maka sarang semut tersebut palsu. Apabila dilihat dari tekstur maka tekstur dari sarang semut asli terasa agak kasar saat diremas, saat diremas tidak akan mengecil dan masih tetap keras, berbeda dengan sarang semut palsu yang terasa halus dan tipis.

Teh herbal kian popular di kalangan masyarakat karena makin banyak orang yang sadar pentingnya kesehatan. Saat ini banyak bermunculan varian teh herbal di pasaran, salah satu teh herbal yang sedang populer adalah teh herbal sarang semut. Hal ini membuat nilai ekonomi dari sarang semut yang dikemas dalam bentuk teh celup mempunyai nilai yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan dijual dalam bentuk lempengan. Sarang semut yang dikemas di dalam kantong teh celup memiliki kelebihan dibanding produk teh celup pada umumnya karena produk ini tidak hanya dapat dikonsumsi oleh penderita penyakit tertentu saja, melainkan dapat juga dikonsumsi oleh semua orang mulai dari anak-anak sampai orang dewasa sebagai minuman pelepas dahaga karena rasa dan aroma yang dihasilkan mirip dengan teh pada umumnya. [NM]





Sunday, October 4, 2020

Pengelolaan Sumber Daya Alam & Perhutanan Sosial berbasis Masyarakat : EcoNusa berkolaborasi dengan KPHP Sorong Selatan

Muhammad Farid, Direktur Program Yayasan EcoNusa, Kepala KPHP Sorong Selatan Reynold Kesaulija dan Yeremias Thesia Kasie. Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan KPHP Sorong Selatan (Foto : Reynold)

Sorong
- Kolaborasi merupakan kerjasama beberapa pihak untuk mencapai tujuan bersama. Khususnya dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Perhutanan Sosial berbasis masyarakat, Yayasan EcoNusa berkolaborasi dengan KPHP Sorong Selatan. Kegiatan ini diawali dengan pertemuan pendahuluan antara Yayasan EcoNusa dan KPHP Sorong Selatan di Luxio Hotel Sorong (23/09/2020)

Muhammad Farid, Direktur Program Yayasan EcoNusa menyampaikan potensi kolaborasi antara Yayasan Econusa dan KPH terkait dengan perhutanan sosial dan pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat, dengan mengintegrasi pengelolaan komoditi darat dan laut agar masyarakat asli/pribumi menjadi manajer dalam pengelolaan sumberdaya alam kedepannya. 

"Econusa sudah mengidentifikasi komoditi yang ada di laut dan di darat dengan sebaran komoditas per-kabupaten di Provinsi Papua Barat. Econusa juga memiliki 2 gudang di Kaimana dan di Sorong, juga terdapat Workshop yang berguna untuk pembelajaran packaging bagi masyarakat" kata Farid

Kepala KPHP Sorong Selatan, Reynold Kesaulija mengapresiasi kolaborasi Yayasan EcoNusa dan KPH dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, dimana sangat penting dimulai dari perlibatan semua pihak mulai dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan, perusahaan sebagai pemangku kepentingan bisnis dan masyarakat adat pemangku hak atas SDA serta NGO sebagai pendamping dalam proses penguatan masyarakat sipil dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. 

"KPHP Sorong Selatan telah melakukan beberapa kerjasama dengan masyarakat dan melakukan penguatan kelembagaan (KTH) melalui kegiatan pengembangan dan pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan Pengelolaan Jasa Lingkungan (ekowisata). KPHP Sorsel juga memiliki Pendamping KTH, Tim GIS/Mapping dan Tim Media yang mendukung KPH dalam pengelolaan hutan, mereka siap diberdayakan dalam progres kerjasama kedepan" tutur Reynold.

Reynold mengemukakan aktivitas kegiatan Perhutanan Sosial (PS) di Kabupaten Sorong Selatan yang telah existing terdapat 2 Hutan Desa yaitu Hutan Desa Manggroholo dan Hutan Desa Sira serta ada 5 usulan kegiatan PS di wilayah areal KPHP Sorong Selatan yaitu Hutan Desa Haha, Hutan Desa Woloin, Hutan Desa Wendi, Hutan Desa Sasnek, Hutan Desa Boldon dimana SK penetapan dalam proses.

"Di Kabupaten Sorong Selatan juga terdapat beberapa konsesi korporasi (unit manajemen) yaitu Perkebunan Kelapa Sawit, IUPHHBK-HA (Sagu) dan IUPHHK-HA (HPH). Logging consession yang dimungkinkan dapat dikelola oleh masyarakat melalui skema PS yaitu Kemitraan Kehutanan (KK) pada areal IUPHHK-HA Bangun Kayu Irian (BKI) dan IUPHHK-HA Mitra Pembangunan Global (MPG) ucap Reynold.

"Sejalan dengan program dari Yayasan Econusa kemungkinan besar yang dapat dilakukan di areal KPHP Sorong Selatan Unit V yaitu Kemitraan Kehutanan (KK) pada logging consession dan Hutan Lindung (HHBK dan Jasling) dengan harapan kedepan kegiatan Pengelolaan Sumber Daya Alam berbasis masyarakat dapat masuk ke KPH dan melalui kemitraan dengan korporasi di wilayah KPH" ujar Farid. [NM]
Muhammad Farid, Direktur Program Yayasan EcoNusa bersama Tim KPHP Sorong Selatan  (Foto : Reynold)


Wednesday, September 30, 2020

Masih Penasaran Tentang Keseruan menjadi POLHUT ? Simak Cerita Asyik dari Koordinator POLHUT ini!

Zakarias Agurahe, SH Koordinator Polisi Kehutanan di Kabupaten Sorong Selatan (Foto : Rizky)
Sorong Selatan - Zakarias Agurahe, SH Koordinator Polisi Kehutanan (POLHUT) di Kabupaten Sorong Selatan dibawah Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat bercerita tentang pengalaman dirinya sebagai Koordinator POLHUT di Kabupaten Sorong Selatan (12/08/2020). 


"Sudah berapa lama Bapak menjadi POLHUT ?" 

Dimulai dari tahun berapa? Mulai penerimaan Polisi Kehutanan mulai dari tahun 2010 sampai dengan 2020, sudah 10 tahun saya bekerja sebagai Polisi Kehutanan.


“Wow, seru sekali! Boleh diceritakan mengapa memilih menjadi POLHUT ?”

Pada waktu itu saya harus pergi dengan adanya pembentukan Polisi Kehutanan dan Pak Runaweri (Kepala Dinas Kehutanan Provinsi papua Barat) waktu itu beliau masih jadi Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan mulai ambil kami sebagai peserta pembentukan Polisi Kehutanan, saat itu diminta PNS yang harus pergi bukan honorer dan disitulah kami 8 orang pergi. Saya (Zakarias Agurahe), Darius Yohanis Saupar, Barnabas Safuf, Yohanes Guraray dan Mesak Guraray, dari distrik Yulianus Blesya, itu yang kami pergi. Sampai dengan selesainya kami pulang kembali ke Sorong Selatan bertugas seperti biasa.


"Apa saja Tupoksi POLHUT ?" 

Yang menjadi tugas POLHUT adalah menjaga dan mengawasi peredaran Hasil Hutan.


"Ada nggak sih tantangan atau kendala dalam melaksanakan tugas ?" 

Kami diberikan motor Dinas roda 2 tetapi yang kami hadapi selama ini luasan hutan Kabupaten Sorong Selatan yang sedemikian luasnya, kami tidak bisa jangkaui dengan motor harus dengan mobil, tapi selama sampai hari ini kami tidak punya mobil, itu yang saya pernah alami, semua yang kami lakukan sudah benar hanya kami tidak punya senjata untuk menghadapi masyarakat di tempat yang jauh dari kota, kami harus berusaha dengan susah payah pakai parang atau sangkur.


"Kesan yang Bapak alami selama menjadi POLHUT ?" 

Terimakasih karena saya menjalankan tugas di lapangan sebagai Polisi Kehutanan sangat baik dan sangat indah pekerjaan ini. Saya bekerja sudah 10 tahun, anak-anak semua mendapatkan upah yang sederhana itu sebagai pegawai negeri yang kita tahu, itu yang mereka sudah selesai, saya manfaatkan itu sehingga anak-anak sudah berhasil semua, selesai kuliah semua sudah pulang, tinggal 3 orang perempuan 2 laki-laki 1 baru mau kuliah, perempuan 1 sudah semester 3, yang 1 masih SMA, dan sangat luar biasa saya sangat senang, akhir-akhir ini kalo memang saya pensiun terimakasih buat Dinas Kehutanan dan terimakasih juga buat Satuan Polisi Kehutanan.


“Mungkin sebagai penutup, apa yang ingin Bapak sampaikan kepada masyarakat ?”

Masyarakat agar dapat menjaga kelestarian hutan ..!!! Kami selalu sampaikan kepada masyarakat, bahwa pengurusan ijin usaha kayu harus jelas dan lengkap sehingga sampai kapan pun itu adalah tanggung jawab kami bersama........!!!! hutan adalah ibu kandung, mari kita lestarikan bersama demi masa depan anak cucu kita. [NM]


Personil KPHP Sorong Selatan bersama Polisi Kehutanan dan Tenaga Satuan Pengamanan Hutan (foto : kphp sorsel)